Inilah Hikmahnya! Hukum Potong Rambut dan Kuku saat Qurban

hukum potong rambut dan kuku saat qurban

Hukum Potong Rambut dan Kuku saat Qurban – Umat islam tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah qurban yang dilaksanakan pada waktu Idul Adha. Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul untuk melaksanakan shalat Ied di pagi hari secara berjamaah dan dilanjutkan dengan ritual qurban.

Namun, bagi yang akan berqurban (shahibul qurban), ada larangan yang harus dijaga yaitu dilarang memotong rambut dan kuku.

Mungkin ada orang yang bertanya, apa hikmah bagi orang yang akan berqurban tidak boleh memotong rambut dan kuku dari awal bulan Dzulhijjah sampai dengan waktu menyembelih sembelihannya ketika Idul Adha.

Hukum Potong Rambut dan Kuku saat Qurban

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya. (HR. Muslim)

Hikmah dari Larangan Memotong Rambut dan Kuku saat Qurban

Berikut penjelasan dari syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengenai hikmah larangan memotong rambut dan kuku saat qurban.

Apabila ada orang yang bertanya, apa hikmah larangan memotong kuku dan rambut, maka kita jawab dengan dua alasan:

  1. Hikmah pertama
    Tidak diragukan lagi jika ada larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam pasti mengandung hikmah. Demikian juga jika ada suatu perintah maka itu juga merupakan hikmah. Hal ini cukuplah menjadi keyakinan setiap orang yang beriman (yaitu yakin bahwa setiap perintah dan larangan pasti ada hikmahnya baik yang diketahui ataupun tidak diketahui).

    Allah Ta’ala berfirman,

    إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

    Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. an-Nur: 51)

  2. Hikmah kedua
    Agar umat islam di seluruh penjuru dunia menyamai orang yang berihram haji dan umrah karena orang yang berihram untuk haji dan umrah juga tidak boleh memotong kuku dan rambut.

    (diringkas dari Fatwa Nurun Alad Darb, link: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_6303.shtml)

Ada juga ulama yang berpendapat dengan pendapat yang lain misalnya:

Hikmah dari larangan memotong rambut dan kuku adalah agar seluruh anggota tubuh orang yang berkurban tetap lengkap sehingga bisa dibebaskan dari api Neraka.

Ada juga pendapat ulama yang menyatakan hikmah dari larangan memotong rambut dan kuku saat qurban adalah membiarkan rambut dan kuku tetap ada dan dipotong bersama sembelihan kurban, sehingga menjadi bagian kurban disisi Allah ta’ala.

Allahu a’lam.

Yang terpenting adalah alasan pertama yang disampaikan, bahwa jika ada perintah dan larangan hendaknya seorang yang beriman segera melaksanakannya dan yakin pasti ada hikmah dan kebaikan di dalamnya.
Dalam risalahnya, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata,

الدين مبني على المصالح في جلبها و الدرء للقبائح

“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan
Mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan,

ما أمر الله بشيئ, إلا فيه من المصالح ما لا يحيط به الوصف

“Tidaklah Allah ta’ala memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh” (Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf)

Baca juga: Penting! Hukum Potong Rambut Saat Haid

Leave a Comment